Rabu, 15 Februari 2012

a short story there are in our side



BIARKAN MEREKA TERSENYUM

Cuaca  siang ini begitu panas, serasa kulit terbakar karena langsung berhadapan dengan sinar matahari. Hari ini memang tidak seperti biasanya, cuaca yang tidak mendukung membuat orang-orang yang lalu lalang di jalan raya menjadi sedikit sepi. Banyak pedagang keliling membawa gerobak kecil berteduh di sepanjang pinggir jalan hanya untuk sekedar berteduh dibawah pohon.
Kuliah hari ini usai tepat pukul 12.00 siang. Banyak mahasiswa yang langsung pulang, ada juga yang sekedar duduk-duduk di lobi dan di depan kampus hanya untuk bercengkerama dengan mahasiswa yang lain. Kali ini ada yang berbeda dengan salah satu temanku, Dinda. Kemarin dia terlihat cemberut dan kesal, tetapi hari ini wajahnya berseri-seri seperti mutiara yang berkilauan. Aku sudah bisa menebak jika wajah temanku cemberut seperti kemarin, itu tandanya dia sedang krisis ekonomi alias dompet kempes.
“Ada yang berbeda hari ini”,ucapku
“Hmmm…Memangnya kenapa, apanya yang berbeda”
“Kemarin aku perhatikan wajahmu cemberut seperti nenek-nenek usia 70 tahun”,ledekku
“Apa? Nenek usia 70 tahun. Secantik ini dibilang nenek-nenek”, balasnya dengan nada tinggi karena tidak terima dengan ledekanku
“Aku ingin jalan-jalan ke mall”
“Oooo, aku tahu sekarang, sudah gak kempes lagi dompetnya”
“Hmmmm(tersenyum). Aku traktir deh mumpung masih tanggal muda, kalau sudah tanggal tua gentian kamu yang traktir. Ok!”
“Selalu begitu”(keluhku)
Universitasku lumayan dekat dengan mall dan tempat pembelanjaan, makanya kita sering kesana.  Setelah puas jalan-jalan pasti uang langsung menipis, mulai deh pinjam sana-sini. Maklum anak kos. Tuntutan  hemat wajib dilakukan, tapi apa daya  uang selalu keluar tak terduga. Kali ini aku mengiyakan ajakan Dinda ke mall. Lumayan juga untuk menghilangkan stres akibat matakuliah yang baru usai membuat kepala pusing sepuluh keliling. Kita mulai bergegas mengambil sepeda motor warna biru yang dikombinasikan dengan hitam yang selalu setia mengantar kami kemanapun kita pergi .
Kali ini Dinda yang memboncengku. Ketika sampai di lampu merah aku melihat ada seorang nenek  yang sudah tua rentah, mungkin umurnya sekitar 70-80 an tahun sedang duduk di pinggir jalan di bawah pohon yang rindang. Kaca helm yang gelap tidak menghalangi pandanganku kearah nenek tersebut. Sekilas aku teringat dengan nenekku yang ada di rumah. Aku merasa kasihan dengan nenek itu, dengan membawa koran di pangkuannya dan menawarkannya kepada para pengendara yang berhenti di lampu merah. Meskipun sudah siang dan koran yang tersisa masih banyak tidak membuatnya putus asa untuk terus menawarkan dagangannya tersebut. Aku berpikir tidak seharusnya nenek setua itu masih harus bekerja membanting tulang. Dimana keluarganya? Kenapa mereka membiarkannya untuk bekerja? Seharusnya dia ada dirumah menikmati sisa hidupnya, bukan di jalanan seperti ini.
Pemandangan yang tidak jauh berbeda membuat hatiku bergetar, anak perempuan berumur sekitar 6 tahun dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar dua tahun lebih muda dari anak perempuan tersebut juga sibuk menawarkan Koran yang ada di tangan mungilnya kepada pengendara yang sedang berhenti di lampu merah. Sedikit berbeda dengan keadaan nenek tersebut. Sang nenek yang lebih pasif menawarkan korannya, sedangkan kedua bocah tersebut lebih aktif turun ke jalan-jalan. Aku sedih melihat kedua bocah itu, Sedari pagi hingga siang dia berjualan koran. Apakah mereka tidak sekolah?Lantas dimana orang tuanya. Mengapa mereka membiarkan bocah yang seharusnya bermain dan bersenang-senang dengan teman sebayanya malah harus bekerja? Dengan pakaian yang lusuh dan suara lembutnya terus menawarkan dagangannya.
“Pak, korannya pak”, ucap bocah perempuan tersebut
“Koran-koran, pak ,bu korannya”,sahut bocah laki-laki
Sungguh aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padaku ataupun keluargaku. Sungguh aku tidak sanggup.
“Tuhan, terima kasih Engkau masih memberiku kehidupan yang lebih baik. Amin”,ucapku dalam hati
Tak terasa lampu hijau sudah menyala, pikiran dan bayangan-bayanganku langsung sirna akibat klakson mobil di belakangku berbunyi. Motor kami oun langsung melaju menuju tempat tujuan. Sesampainya disana, Dinda heran melihat raut wajahku yang langsung berubah muram.
“Indy. Kamu kenapa? Kamu sakit”,tanya Dinda
“ Hah, kamu tadi bilang apa?”
“Kamu kenapa?sakit”, ulang Dinda
“Aku baik-baik saja”
Tidak seperti biasa ketika sedang jalan–jalan, Aku lebih banyak diam daripada melihat barang- barang yang di pamerkan. Aku masih terngiang dengan suasana seperti di jalan tadi.
Sejak semalaman aku memikirkan kejadian siang itu, aku berusaha mencari jalan keluar untuk membantu nenek dan kedua bocah itu bahkan orang-orang jalanan yang lain yang memang membutuhkan bantuan kita. Kebetulan hari ini ada rapat program kerja  Badan Eksekutif Mahasiswa bidang pengabdian masyarakat.(PENGMAS ).Kali ini kita membuat program kerja tahunan. Banyak sekali usulan–usulan yang di tawarkan, namun sama sekali tidak ada yang menyentuh pada orang-orang jalanan.
Daniel adalah ketua BEM bidang pengabdian masyarakat. Banyak yang bilang bahkan Dinda pun mengatakan jika Daniel diam-diam memperhatikanku, tetapi aku hanya merespon biasa dari kabar burung tersebut karena aku merasa Daniel hanya menganggapku sebatas rekan organisasinya.
Aku langsung mengungkapkan ideku ketika Daniel menanyakan apakah aku punya ide lain atau tidak. Keinginanku untuk membantu para orang jalanan, khususnya para orang tua yang sudah lanjut usia dan anak-anak yang putus sekolah dengan percaya diri aku ungkapkan.
“Jadi langkah awal kita akan mengumpulkan dana dan memberikan bantuan secara langsung , membangun sekolah singgah serta membuat perpustakaan mini yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak yang putus sekolah sebagai fasilitas  belajar disana. Selain itu mengadakan pembinaan dan penyuluhan kepa masyarakat”, tuturku
“Apakah hanya pihak kita  saja yang menangani masalah itu?” Tanya Daniel
“Kita bisa menyampaikan masalah ini kepada pihak pemerintah untuk turut andil dalam masalah ini karena sesungguhnya ini semua tanggung jawab pemerintah”,jawabku
Usulanku mendapat respon positif baik dari Daniel maupun anggota lain. Setelah rapat dalam forum membahas program kerja tahunan akhirnya usulanku masuk dalam program kerja tahun ini. Tepat pukul 17.00 rapat selesai . Aku pun cepat bergegas pulang ke rumah  kos karena masih banyak tugas kuliah yang belum selesai kukerjakan. Tiba-tiba Daniel memanggilku, aku pun langsung menghentikan langkahku.
“Indy, aku ingin meminjam catatan matakuliah kemarin,boleh tidak?”
“Ohh, boleh. Tapi catatannya ada di rumah kos, kalau begitu aku ambil dulu”
“Bagaimana kalau aku antar kamu, sekalian ambil catatannya”, kata Daniel
“Tidak perlu, nanti malah merepotkan”,tolakku
“Justru aku yang merasa tidak enak kalau kamu harus bolak-balik ke kampus, lebih baik kita pulang bersama”
“Baiklah”
Aku menerima tawaran Daniel untuk pulang bersama. Aku merasa aneh pulang dengannya karena sekitar dua tahun mengenalnya aku tidak pernah pulang bersamanya ataupun jalan berdua dengannya. Karena merasa canggung aku mulai membuka percakapan dengannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Alya sekarang”
“Aku sudah putus dengannya sebulan  yang lalu”
“Maaf, aku tidak tahu masalah itu”
“Santai saja”
“Sudah sampai, aku ambilkan dulu bukunya di dalam”
Tak lama kuberikan buku catatanku padanya. Entah ada apa yang salah  denganku , dia menatapku tajam. Akupun jadi heran melihatnya.
“Hmmmm”,aku menggumam
“Ada yang salah denganku”
“Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Kalau begitu aku pulang dulu”
Aku jadi salah tingkah ketika Daniel menatapku. Apa benar kabar burung itu, kalau dia ada rasa, tetapi aku tidak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari perhatiannya kepadaku. Aku mencoba netral dan bersikap seperti rekan profesional.
Program kerja yang kuusulkan rencananya akan  dilaksanakan pada bulan ini. Oleh sebab itu, aku bekerja keras untuk mewujudkan program kerja ini. Selama itu pula aku jadi semakin dekat dengan Daniel karena sering bersama untuk melakukan persiapan program tersebut. Kedekatanku dengannya pun menimbulkan kesalahpahaman, karena banyak yang menyangka kalau aku ada hubungan dengannya. Aku pun hanya menanggapinya biasa.
Tiba waktunya program ini berjalan, kita pun langsung berinteraksi dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Setiap hari secara bergilir diadakan belajar bersama dengan anak-anak yang putus sekolah sampai pemerintah memberikan bantuan pendidikan gratis kepada mereka. Aku mendapat giliran dua kali dalam seminggu, itu pun aku dengan Daniel. Kenapa semua ini kebetulan . Sebenarnya hati ini merasa senang karena bisa selalu dekat dengannya. Apakah ini pertanda kalau aku ada perasaan dengannya. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Aku senang program tahunan ini berhasil dan berjalan lancar. Apalagi melihat anak jalanan yang semakin hari semakin bertambah untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan mini yang kita dirikan. Ini semua tidak dapat terwujud tanpa bantuan para donatur yang ikut menyumbang, salah satunya orang tua Daniel sebagai donator utama dalam program ini. Masyarakat pun menyambutnya dengan antusias. Mereka merasa terbantu dengan program ini, ternyata masih ada yang peduli dengan keadaan orang –orang jalanan.
Usai kuliah aku bersiap menuju sekolah singgah karena jadwalku dengan Daniel untuk mengajari anak-anak jalanan hari ini. Seperti biasa mereka menyambut kami dengan suka cita. Sebelum mulai ke pokok pembelajaran kami biasanya memulai dengan sharing untuk saling mencurahkan apa yang ada di pikiran anak-anak jalanan. Menyanyi bersama, yang penting bersantai dahulu. Ketika dirasa cukup kita memulai pembelajaran.
Suasana di rumah singgah jadi menyenangkan, melihat anak-anak yang bersuka ria. Hingga suatu keadaan yang tak terduka terjadi. Daniel menyatakan perasaannya kepadaku di depan anak-anak. Aku jadi salah tingkah harus menjawab apa. Seluruh yang ada di rumah singgah berseru melihatnya. Aku tidak bisa menolaknya karena memang aku juga punya perasaan yang sama. Sungguh hal yang tidak terduga aku mendapat dua berkah, bisa membantu orang-orang yang membutuhkan juga menemukan cinta sejati.
“Apa yang membuatmu memilihku, aku sangat berbeda dengan Alya”
“Itulah yang membuatku belajar dari kesalahan. Dulu aku hanya melihat kebaikan fisik Alya saja. Tapi aku salah karena bukan itu saja yang membuat kita bahagia”
”Lalu, bagaimana denganku?”tanyaku lagi
“Aku melihat kepribadianmu yang luar biasa. Jiwa sosial yang kau miliki membuatku tertarik padamu dan aku pun merasa ada kebahagiaan tersendiri yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Itulah yang kusebut cinta sejati”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar